Kumpulan Motivasi Hikmah

Rabu, 18 Juli 2012

Kasus terlempar keluar 60 penumpang dari pesawat Ilyushin 76 di ketinggian 10.000 kaki,

 Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™





Percakapan yang Membebaskan

Manusia, dari tingkatan permukaan sampai ke tingkatan hati dan jiwa, memang pernah ditelusuri banyak sekali ilmuwan. Dari psikolog Sigmund Freud, Carl Jung, ke sosiolog Max Weber, Anthony Giddens, sampai dengan fisikawan seperti Frijof Capra. Deretan ilmuwan ini tentu amat membantu pemahaman kemudian. Tidak saja di zaman mereka hidup, bahkan melebar ke waktu-waktu sesudahnya.

Kedalaman hasilnya, memang amat tergantung pada ketekunan seseorang dalam mencari dan menggali. Dan seniman, lengkap dengan kelebihan maupun kekurangannya, melalui bahasa-bahasa metaforanya sedang ?bercakap-cakap? dengan dirinya sendiri. Dan pembaca serta pendengarnya pun ?bercakap-cakap? dengan dirinya sendiri.

Yang layak direnungkan, melalui tangan-tangan seniman yang percakapan ke dalamnya mengagumkan sebagaimana penulis novel ?Biola Tak Berdawai,? kita seperti diajak menyelam dalam ke kedalaman kita masing-masing. Coba perhatikan salah satu kalimat menyentuh novel indah ini ketika mencoba menjelaskan kehidupan anak-anak tuna daksa (melebihi dari satu cacat ? demikian salah satu keterangan kecil novel ini): ?kami tidak sempurna bagi yang membandingkan ketubuhan kami dengan ketubuhan mereka, tetapi kami bertubuh sempurna dalam keberadaan kami sendiri?.

Bagi pikiran yang dipenuhi kepintaran, dan hanya bisa berjalan serta bergerak jika ada pembandingan, penggambaran kesempurnaan seperti ini tentu saja menghentak. Kesempurnaan, ternyata ada di luar pembandingan. Ini menerangkan sekaligus membebaskan. Berbeda sekali dengan keseharian sejumlah sahabat. Di mana kesempurnaan menjadi sangat dan teramat langka, karena penuh pembandingan sekaligus penghakiman.

Jangankan anak-anak cacat, istri, suami, atasan, bawahan, orang tua, tetangga, pemerintah, anggota legislatif, anggota yudikatif, semuanya terlihat jauh dari sempurna karena dibandingkan. Lebih-lebih kalau pembandingan ini dibumbui penghakiman. Tidak saja yang dibandingkan dan dihakimi yang terlihat kurang sempurna, pihak yang membandingkan dan menghakimi juga bergerak ke tataran yang semakin tidak sempurna.Kata ?lebih?, entah lebih baik atau lebih buruk, memang tidak sekadar jembatan pemahaman. Ia juga serangkaian penghakiman yang bisa membebaskan atau menakutkan.

Bukankah perang, konflik, teror, perceraian dan sejenisnya lahir dari manusia yang merasa diri lebih benar? Adakah yang merasakan kesombongan demikian berkuasanya di dalam ketika manusia menyebut diri lebih baik? Adakah yang melihat kalau minder dan tidak percaya diri sudah merampok demikian sadisnya ketika manusia menyebut dirinya lebih buruk?

Bagi siapa saja yang tekun dalam perjalanan percakapan yang membebaskan, setiap pemberhentian sementara diikuti oleh perjalanan pertanyaan berikutnya.
Hati yang mana?
Keinderaan yang mana?
Hati yang diselami kata-kata atau hati yang diselami cinta keseharian?
Keinderaan yang mendengar ke luar atau keinderaan yang mendengar ke dalam?
Hati yang memancar melalui hafalan atau pemujaan?
Keinderaan yang tumbuh melalui daging atau yang tumbuh oleh keindahan?

Ah, maafkanlah percakapan! Dari satu sisi, ia memang seperti menambah kebingungan melalui pertanyaan-pertanyaannya. Di lain sisi, ia juga yang memberi energi perjalanan pemahaman sekaligus membebaskan.
Terutama, melalui sifatnya yang senantiasa terbuka.

- Gede Prama (sinarharapan) -
***************************************************************
Tahukah Anda !.

Kasus terlempar keluar 60 penumpang dari pesawat Ilyushin 76 di ketinggian 10.000 kaki, Mei 2003 lalu cukup menarik perhatian.

Mengapa ? Menurut batasan fisika, semakin jauh dari permukaan tanah, tekanan udara yang membungkus Bumi akan semakin kecil.

Kejadian Il-76 bisa dirunut sebagai berikut. Menjelang keberangkatan, semua pintu kemudian ditutup rapat. Sejak itu hubungan kabin penumpang ditutup dengan lingkungan luar.Dalam persiapan terbang ini, tekanan udara dalam kabin penumpang kemudian diatur. Tekanan diatur hingga batas dimana tubuh manusia dapat mentoleransinya. Dalam hal ini, tekanan tak dibuat sama benar dengan tekanan udara di permukaan Bumi, melainkan cukup hingga tekanan pada ketinggian 500-1.000 kaki. Tekanan ini harus senantiasa dijaga secara ketat dalam pressurized cabin berdinding dan seal kuat. Tak boleh ada celah sedikit pun dengan udara luar.

Sedikit saja timbul celah efek yang terjadi bakal luar biasa.Jika hal ini terjadi di ketinggian jelajah pesawat badan lebar yang sekitar 33.000 kaki, misalnya, lubang kecil bisa bikin badan pesawat pecah. Itu karena udara dari dalam kabin akan menyerobot keluar hingga terjadi persamaan tekanan udara di dalam dan luar.
***************************************************************
Kata Bijak Hari Ini.
“ Masa depan harus dipikirkan baik-baik, direncanakan
serta dipersiapkan sebaik mungkin. Tetapi
tidak boleh disertai dengan kekhawatiran.
Jangan khawatir akan hari esok. ”
(Dale Carnigie)
***************************************************************
Motivasi_Net's Cool Site Of The Day,

Mudah belajar bahasa Inggris
http://www.easyenglish.com
***************************************************************

Kasus terlempar keluar 60 penumpang dari pesawat Ilyushin 76 di ketinggian 10.000 kaki, Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis