Kumpulan Motivasi Hikmah

Senin, 23 Juli 2012

Memulihkan Rasa Percaya Diri

 Memulihkan Rasa Percaya Diri
Mula-mula mari kita pikirkan hal paling buruk apakah yang bisa terjadi
dalam hidup kita se-ba-gai seorang manusia? Apakah hal yang paling buruk
itu adalah ketika kita kehilangan kekasih kita? Ataukah hal yang paling
buruk itu adalah ketika kita kehilangan pekerjaan kita? Ataukah ketika kita
mengalami musibah?
Bagi saya, sebenarnya hal yang paling buruk yang bisa terjadi dalam
kehidupan seorang manusia bukannya yang datang dari luar dan kemudian
masuk ke dalam diri manusia. Perkara yang paling bisa menghancurkan
manusia bukan sesuatu yang datang dari luar dan kemudian menyergap
hidupnya. Entah itu kehilangan pekerjaan, kehilangan kekasih, atau
kehilangan pendapatan. Bukan itu, tetapi hal yang paling buruk yang bisa
terjadi di dalam kehidupan seseorang adalah ketika orang tersebut
kehilangan kepercayaan diri terhadap dirinya sendiri. Istilah lainnya,
meminjam bahasa gaul remaja, tidak lagi pede.
Orang yang putus asa berarti ia tidak lagi bisa memercayai dirinya sendiri.
Hal ini merupakan hal yang paling berbahaya karena keputusasaan datang
dari dalam hati seseorang. Sesuatu yang datangnya dari luar, sejalan dengan
waktu dapat disingkirkan, tetapi apa yang terjadi di dalam hidup manusia,
hanya orang yang bersangkutan itulah yang bisa menyelesaikannya. Berapa
banyak orang yang putus asa, yang kehilangan kepedean terhadap dirinya
sendiri, dan kemudian merasakan letih lesu, lunglai sehingga merasa tak
ada lagi yang dapat dilakukan selain mengakhiri hidupnya. Menurut saya,
inilah masalah yang paling besar ketika kita tidak bisa lagi melihat bahwa
di dalam hidup kita ada sesuatu yang masih bernilai.
Kita akan membahas tentang pergumulan Gideon ketika ia berhadapan
dengan Tuhan. Gideon dan bangsanya adalah orang-orang yang sudah putus
asa. Mereka sudah kalah. Mereka sadar karena dosa mereka sendiri, mereka
dihukum oleh Tuhan. Mereka juga sadar orang Median lebih besar dan lebih
kuat. Orang Israel berada pada posisi yang terpojok. Namun, sebenarnya
yang lebih berbahaya dari sekadar ancaman orang Median adalah kenyataan
bahwa mereka kehilangan kepercayaan diri mereka sebagai sebuah bangsa.
Ketika malaikat Tuhan datang, Gideon sedang mengirik gandum di tempat
pemerasan anggur. Mengirik gandum adalah pekerjaan yang dahulunya
biasa dilakukan di udara terbuka. Orang Israel melakukannya di tempat
pemerasan anggur yang tersembunyi. Hal ini berarti mereka memang
ketakutan setengah mati. Mereka memang tidak punya pilihan yang lain.
Mereka memang tidak bisa ke mana-mana lagi selain harus menerima
kenyataan bahwa mereka harus menghadapi bangsa yang lebih kuat. Akan
tetapi, mereka juga harus mengakui bahwa di dalam diri mereka sudah
tidak ada lagi kekuatan, sudah tidak ada keberanian, dan sudah tidak ada
lagi semangat untuk melawan. Orang yang jatuh pada keputusasaan yang
paling dalam, ia pasti akan kehilangan semangat hidupnya. Akan tetapi,
orang yang masih bisa menemukan satu atau dua keindahan di dalam
hidupnya, ia akan menjadi orang yang bisa bertahan di dalam tekanan hidup
yang seberat apa pun.
Semangat bertahan itulah yang tidak dipunyai Gideon. Gideon hanya
melihat hidup yang be-gi-tu berat, dirinya yang ternyata bukan apa-apa. Ia
penuh dengan ketakutan, kecemasan, keputusasaan sam-pai saat Tuhan
menjumpai dan menyapanya. Tuhan berkata, "Tuhan menyertai engkau, ya
pah-lawan yang gagah berani." Gideon tidak menjawab sapaan Tuhan itu
dan yang keluar malahan keluhan, "Ah Tuanku, jika Tuhan menyertai kami,
mengapa semuanya ini menimpa kami?"
Lihat, Gideon tidak mempunyai semangat. Ia tidak memiliki tekad untuk
hidup, yang keluar adalah keluhan, keluhan, dan keluhan. Ketika orang
sudah kehilangan harapan, sudah tidak lagi dapat memercayai dirinya
sendiri dan sudah kehilangan kekuatannya, maka satu-satunya hal yang
sering ia lakukan adalah mengeluh. Jika kita sudah mulai banyak
mengeluh, bisa jadi itu indikasi bahwa kita sudah mulai letih lesu dan
berbeban sehingga kita tidak bisa melakukan apa-apa selain mengeluh,
mengeluh, dan mengeluh.
Gideon dijumpai Tuhan dalam keputusaasaan yang hebat. Ia tidak bisa
mengatakan apa-apa selain keluhan, "Kalau memang Tuhan menyertai
kami, mengapa keadaannya bisa begini? Saya ini bisa apa? Saya ini paling
kecil di antara seluruh kaum keluargaku. Saya ini tidak bisa apa-apa."
Namun, ada sesuatu yang unik di dalam ucapan Tuhan. Memang Gideon
lemah, letih, dan dalam ketakutan, serta kehilangan kepercayaan bahkan
kepada dirinya sendiri, tetapi Tuhan yang Mahatahu itu berkata, "Tuhan
menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani."
Perkataan Tuhan itu bisa memiliki dua arti. Jika dalam suasana perang ada
orang yang melarikan diri karena ketakutan dan kemudian ia disapa sebagai
pahlawan yang gagah berani, maka itu bisa dianggap sebagai suatu sindiran.
Akan tetapi, saya rasa Tuhan tidak sedang menyindir Gideon. Tuhan di
dalam kemahakuasaan-Nya dan di dalam kemahatahuan-Nya adalah Tuhan
yang melihat bahwa di tengah keputusasaan Gideon terhadap hidupnya dan
di tengah kegagalan Gideon, bahkan untuk memercayai dirinya sendiri,
Tuhan masih memercayai dia. Tuhan melihat jauh ke depan bahwa kelak
Gideon yang sekarang penuh dengan keputusasaan dan penuh dengan
ketakutan serta kecemasan ini akan menjadi pahlawan yang gagah berani.
Ketika Tuhan menyentuh dan menjamah hidup seseorang yang sedang
dalam keputusasaan yang paling dalam, maka satu hal yang Ia kerjakan
adalah memeriksa hidup orang itu. Tuhan akan mencari hal yang paling
indah dan yang paling baik, yang masih bisa Ia temukan di dalam hidup
orang itu. Selanjutnya, Tuhan akan bekerja lewat hal yang terindah itu
sehingga orang ini menjadi orang yang cakap dan tangguh.
Ketika kita kehilangan rasa percaya diri dan menyesali nasib dan kesalahan,
kemudian kita mulai menjadi putus asa dan depresi, maka pada saat seperti
inilah kita harus membiarkan Tuhan mengubah hidup kita. Kita harus
membiarkan Ia menjamah hidup kita. Ia akan menunjukkan bagian-bagian
dari hidup kita yang bisa dipakai-Nya untuk membangkitkan kita. Tuhan
memahami bahwa ketika manusia putus asa dan kehilangan kepercayaan
diri, maka ia tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipercayainya. Tidak ada
jalan lain, selain Tuhan menjamah orang itu dan membukakan matanya
untuk melihat bahwa mungkin masih ada satu atau dua hal baik dan indah
di mata Tuhan. Melalui satu dan dua hal itu, Tuhan akan membentuknya
menjadi umat yang tangguh.
Kadang kala dalam kondisi yang putus asa, depresi, ketakutan, kecemasan,
dan kehilangan kepercayan diri, kita justru sering kali lari dari Tuhan. Kita
khawatir jika kita datang kepada Tuhan, Ia tidak menerima kita. Kita
berpikir sudah cukuplah caci maki orang kepada kita dan sudah cukuplah
kesalahan ditimpakan kepada kita. Kita menyalahkan diri sendiri. Kita
pikir, kalau kita datang kepada Tuhan, Ia akan melakukan hal yang sama
seperti orang lain. Ia akan menunjukkan dosa-dosa dan kesalahan kita? Kita
bertanya-tanya, tidakkah Ia akan menghakimi kita?
Itulah yang membuat kita akhirnya tenggelam dalam keputusaasaan yang
paling dalam karena kita merasa kita akan gagal. Kita merasa Tuhan juga
melihat dan menjatuhkan penghukuman yang sama. Padahal tidak. Tuhan
tidak pernah melakukan itu. Bagian Alkitab yang lain mengatakan bahwa
hati yang hancur dan penuh penyesalan itu adalah hati yang justru akan
dijamah Tuhan dan justru merupakan hati yang akan dipulihkan oleh
Tuhan. Namun, entah dari mana datangnya ide dan keyakinan bahwa ketika
kita gagal, kalah, atau salah, maka itu berarti juga Tuhan tidak mau
menerima kita. Tidak! Tuhan adalah Ia yang melihat hal yang paling indah
di tengah kehancuran yang sedalam apa pun. Tuhan punya mata yang
sangat tajam sehingga ia bisa menemukan satu atau dua titik keindahan di
dalam kehancuran hidup kita.
Seorang rekan yang berasal dari sebuah latar belakang yang buruk dan
terbuang dari keluarga menuturkan kepada saya bahwa Tuhan itu baginya
sama seperti seorang pemulung. Dahulu ketika ia gagal, keluarga
membuangnya. Dulu hidupnya hancur, ia dibuang oleh orang lain, dan
dianggap tidak berharga dan harus dijauhi. Ia bahkan tidak bisa
memercayai dirinya sendiri. Akan tetapi, Tuhan seperti seorang pemulung
yang di tengah kehancuran hidupnya masih bisa melihat hal-hal yang indah
di dalam hidupnya. Di tengah penolakan orang lain, Tuhan masih
menerimanya. Di tengah rusaknya hidupnya yang dikarenakan ulahnya
sendiri, Tuhan masih bisa menemukan hal-hal baik yang masih bisa
diperbaiki. Tuhan mengambilnya dan memulihkannya.
Namun, alih-alih berkata seperti rekan saya tersebut, mengapakah kita
cenderung memandang Tuhan sebagai seseorang yang berdiri dengan
penghakiman dan siap untuk menjatuhkan hukuman? Mengapa kita tidak
memandang Tuhan sebagai seseorang yang menanti diri kita dan yang
masih tetap percaya kepada kita?
Gideon adalah orang yang kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.
Tuhan menjamahnya dan Tuhan memperlihatkan bahwa di dalam kuasa
dan pekerjaan-Nya, Gideon bisa menjadi pahlawan yang gagah berani.
Namun, perhatikan reaksi Gideon. Ia tidak bisa berterima kasih dan tidak
bersyukur kepada Tuhan, tetapi terus-menerus bersembunyi di balik
kelemahannya. Terus-menerus ia menyalahkan keadaannya. Dengan kata
lain, ia tidak mau Tuhan membangkitkan kepercayaan dirinya. Tuhan
mengubahkan ia, tetapi Gideon bersembunyi di balik situasinya yang tidak
menyenangkan. Ia memilih bersembunyi di balik kondisinya yang memang
paling kecil di antara kaumnya. Gideon memilih untuk tetap hidup di dalam
kelemahan dan keterbatasannya. Padahal, Tuhan sudah menunjukkan
bahwa ada sisi yang indah di dalam hidup seorang Gideon.
Betapa sering di dalam hidup ini kita berlindung di balik kelemahan dan
keterbatasan kita. Ketika Tuhan hendak membentuk hidup kita, kita
berlindung di balik kelemahan dan keterbatasan kita. Ketika Tuhan ingin
menjamah hidup kita, atau hidup orang lain dengan menegur untuk sesuatu
maksud yang baik, kita sering berkata, "Ya, memang sudah seperti ini."
Ketika orang bertanya mengapa kita menjalami kehidupan tanpa makna,
maka dengan begitu saja kita bebas menyalahkan lingkungan kita dan
berkata, "Mau apa lagi?" Jadi, lingkungan asal tempat kita hidup menjadi
tempat berlindung yang paling aman dari jamahan Tuhan atas hidup kita.
Dulu semasa kuliah, saya tinggal di kamar asrama bersama dengan dua
orang teman selama enam bulan sehingga kami mengenali karakter masingmasing.
Salah satu teman sekamar saya adalah seseorang sulit memercayai
diri sendiri. Setiap menjelang menghadapi ujian, ia selalu berteriak-teriak
dan memukul-mukul kepalanya dan mengatakan bahwa dirinya adalah
orang bodoh dan pasti tidak dapat mengerjakan ujian. Namun, setiap hasil
ujian diumumkan, teman ini selalu mendapat nilai yang paling tinggi di
antara kami. Hal ini membuat kami kesal dan kami mendorong dia untuk
memiliki rasa percaya diri. Kami katakan bahwa ia sebenarnya memiliki
kemampuan, tetapi ia selalu menolak dan berdalih bahwa ia memang sudah
dari kecil begitu dan lingkunganlah yang membentuk dirinya seperti itu. Ia
tidak mau merubah perilakunya dan sebaliknya ia berlindung di balik
perkataan "memang saya dari dulu sudah begini."
Betapa mudahnya kita berlindung pada kelemahan dan ketidakberdayaan
kita. Kita memberikan kesan seolah pintu tertutup bagi Allah untuk
memproses diri kita. Kita memberikan terlalu banyak alasan yang inti
sebenarnya adalah kita tidak mau Tuhan mengerjakan sesuatu yang indah
di dalam hidup kita. Sama seperti Gideon yang berkata, "Lihat, kalau
Engkau menyertai kami, tidak mungkin bangsa kami berada dalam kondisi
seperti ini. Kalau Tuhan memang menyertai kami, tidak mungkin Tuhan
melakukannya melalui diri saya. Saya ini kecil." Orang yang kehilangan
kepercayaan terhadap diri sendiri akan berhenti di satu titik saja meskipun
Tuhan sudah bekerja di dalam hidupnya dan menunjukkan bahwa Ia ingin
memproses hidupnya.
Ketika Tuhan ingin membangkitkan kita dari keputusasaan melalui proses
yang terjadi di dalam hidup kita, kita sering memilih mundur saja. Kita
memilih untuk dikuasai ketakutan dan keputusasaan kita. Kita memilih
untuk mengeluh mengenai betapa besarnya beban yang ada. Padahal, di
dalam kemahatahuan dan kejelian-Nya, Tuhan melihat bahwa sebenarnya
ada titik-titik tertentu yang indah di dalam hidup kita yang bisa Ia kerjakan
sehingga melahirkan sesuatu yang luar biasa. Proses dari Tuhan akan
melahirkan orang yang tangguh dan yang berkemenangan dan yang akan
penuh dengan kekuatan. Akan tetapi, syaratnya adalah kita harus
membiarkan tangan Tuhan itu masuk di dalam hidup kita dan kalau tangan
Tuhan itu masuk ke dalam hidup kita, maka pertama-tama Ia akan
membenahi diri kita.
Kadang kala kita memohon agar Tuhan untuk menyelesaikan masalah kita
sesuai dengan jalan yang kita pandang benar. Akan tetapi, kalau kita amati,
bukanlah demikian cara Tuhan menyelesaikan masalah Gideon. Tuhan
menyelesaikan masalah Gideon bukan dengan membuat habis musuhmusuh
Gideon, tetapi Tuhan menolong Gideon dengan cara memulihkan
kepercayaan diri Gideon terlebih dahulu. Ia memulihkan dulu perasaan
Gideon yang merasa bahwa ia ditinggalkan Tuhan. Tuhan memberikan
jaminan terlebih dahulu kepada Gideon bahwa Ia besertanya. Cara Tuhan
membebaskan kita dari pergumulan dan kehidupan yang menekan adalah
dengan bekerja melalui diri kita sendiri yang berada dalam kondisi putus
asa. Kita diperbaiki dulu baru kemudian kita bersama-sama dengan Tuhan
akan maju menghadapi beban dan pergumulan yang ada.
Jadi, jangan pernah lagi berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk
membereskan semuanya. Namun, berdoalah supaya Tuhan menjamah hidup
kita atau menguatkan diri kita serta memberi kita kepercayaan dan
penyertaan-Nya sehingga kita muncul sebagai orang yang tangguh dan
berkemenangan. Cara kerja Tuhan berbeda dengan apa yang kita harapkan.
Ia tidak menyingkirkan semua masalah, lalu berkata, "Mari Gideon kita
maju." Kalau memang semuanya, maka untuk apa maju lagi? Akan tetapi, Ia
membereskan Gideon dan hatinya terlebih dahulu dan memulihkan dan
kepercayaan dirinya. Setelah Gideon dipulihkan kepercayaan dirinya, maka
ia bersama dengan Tuhan muncul sebagai orang yang berkemenangan.
Jadi, ketika seseorang putus asa dan letih lesu, Tuhan tidak akan bekerja
dengan cara mengubah sesuatu yang di luar dulu, tetapi pertama-tama
Tuhan akan berurusan dulu dengan orang tersebut. Kemudian, Tuhan
bersama-sama dengan orang ini akan menghadapi seluruh tantangan
pergumulan dan kesulitan. Dengan demikian, seperti yang dialami Gideon,
sesuatu yang berbeda akan terjadi di dalam hidup orang itu. Mengapa?
Karena ia mulai percaya bahwa dirinya tidak dibuang Tuhan. Bahkan, ia
mulai merasakan ada Tuhan di dalam hidupnya. Musuhnya tetap sama,
bebannya tetap sama besar, kesulitannya tetap masih ada, tetapi yang
berbeda adalah diri orang itu sendiri. Seperti Gideon, ia sudah dipulihkan
kepercayaan dirinya. Ia sekarang sudah bersama dengan Tuhan sehingga
apa pun yang terjadi di luar adalah hal yang akan diselesaikannya bersama
dengan Tuhan.
Tidak semua dari kita mau mengakui bahwa diri kita putus asa. Tidak
semua dari kita mau mengakui bahwa diri kita berada di dalam pergumulan
besar. Namun, apa yang sedang kita alami akan tersirat secara tidak
langsung melalui apa yang kita ucapkan, misalnya keluhan-keluhan dan
ketidakpuasan-ketidakpuasan kita. Hal ini tampak juga ketika kita
kehilangan kepercayaan terhadap orang lain atau kepada diri sendiri.
Dalam keadaan seperti ini, pertama-tama biarkan Tuhan berurusan dengan
kita. Berdoalah meminta, bukan supaya Tuhan membereskan semuanya,
tetapi supaya Tuhan berurusan dengan kita. Waktu kita bertanya-tanya,
"Apa masih bisa, sedangkan orang tidak memercayai saya? Bahkan, saya
tidak memercayai diri saya sendiri." Saya yakin Tuhan bisa. Tuhan ternyata
masih percaya kepada kita. Karena itu, jika kita tidak bisa lagi memercayai
apa pun: hidup kita gagal, kita dianggap orang yang tidak berguna, kita
dianggap orang yang hanya menambahi beban masalah; maka di dalam
kondisi seperti itu, mari kita percaya kepada Tuhan. Ia tidak pernah
meninggalkan kita. Tuhan akan menemukan hal-hal indah di dalam hidup
kita yang akan menjadi pintu masuk bagi tangan-Nya untuk terus bekerja.
Karena itu, saya mohon dengan sangat, janganlah kita melakukan upaya
bunuh diri kala kita kehilangan kepercayaan kita. Tolong hargai hidup ini
karena hidup adalah anugerah Tuhan. Ingatlah bahwa Ia masih bisa melihat
hal-hal yang indah, yang mungkin tidak bisa dilihat oleh siapa pun.
Percayalah kepada Tuhan karena Ia pun memercayai Anda.
Sumber : wepe.berteologi.net



 Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™

Memulihkan Rasa Percaya Diri Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis