Kumpulan Motivasi Hikmah

Senin, 23 Juli 2012

Memupuk Rasa Percaya Diri

 Memupuk Rasa Percaya Diri
Oleh Jacinta F. Rini Team e-psikologi
Pernahkah anda mengalami krisis kepercayaan diri atau dalam bahasa
sehari-hari "tidak pede" dalam menghadapi suatu situasi atau persoalan?
Saya yakin hampir setiap orang pernah mengalami krisis kepercayaan diri
dalam rentang kehidupannya, sejak masih anak-anak hingga dewasa bahkan
sampai usia lanjut. Ruang konseling di website inipun banyak diwarnai
dengan pertanyaan seputar kasus-kasus yang berhubungan dengan krisis
kepercayaan diri tersebut. Sudah tentu, hilangnya rasa percaya diri menjadi
sesuatu yang amat mengganggu, terlebih ketika dihadapkan pada tantangan
atau pun situasi baru. Individu sering berkata pada diri sendiri, “dulu saya
tidak penakut seperti ini....kenapa sekarang jadi begini ?” ada juga yang
berkata: "kok saya tidak seperti dia,...yang selalu percaya diri...rasanya
selalu saja ada yang kurang dari diri saya...saya malu menjadi diri saya!”
Menyikapi kondisi seperti tersebut diatas maka akan muncul pertanyaan
dalam benak kita: mengapa rasa percaya diri begitu penting dalam
kehidupan individu. Lalu apakah kurangnya rasa percaya diri dapat
diperbaiki sehingga tidak menghambat perkembangan individu dalam
menjalankan tugas sehari-hari maupun dalam hubungan interpersonal. Jika
memang rasa kurnag percaya diri dapat diperbaiki, langkah-langkah apakah
yang harus dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan saya jawab
dalam artikel ini.
Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan
dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri
maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan
berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala
sesuatu seorang diri, alias “sakti”. Rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya
hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu
tersebut dimana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya
bahwa dia bisa – karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi
serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri.
Karakteristik
Karakteristik atau ciri-ciri Individu yang percaya diri
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri
yang proporsional, diantaranya adalah :
• Percaya akan kompetensi/kemampuan diri, hingga tidak
membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat
orang lain
• Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima
oleh orang lain atau kelompok
• Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain – berani
menjadi diri sendiri
• Punya pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosinya stabil)
• Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau
kegagalan, tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah
menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak
tergantung/mengharapkan bantuan orang lain)
• Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, ornag lain
dan situasi di luar dirinya
• Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika
harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif
dirinya dan situasi yang terjadi.
Karakteristik atau ciri-ciri Individu yang kurang percaya diri
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang kurang percaya diri,
diantaranya adalah:
• Berusaha menunjukkan sikap konformis, semata-mata demi
mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok
• Menyimpan rasa takut/kekhawatiran terhadap penolakan
• Sulit menerima realita diri (terlebih menerima kekurangan dir) dan
memandang rendah kemampuan diri sendiri – namun di lain pihak
memasang harapan yang tidak realistik terhadap diri sendiri
• Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif
• Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani
memasang target untuk berhasil
• Cenderung menolak pujian yang ditujukan secara tulus (karena
undervalue diri sendiri)
• Selalu menempatkan/memposisikan diri sebagai yang terakhir, karena
menilai dirinya tidak mampu
• Mempunyai external locus of control (mudah menyerah pada nasib,
sangattergantung pada keadaan dan pengakuan/penerimaan serta
bantuan orang lain)
Perkembangan Rasa Percaya Diri
Pola Asuh
Para ahli berkeyakinan bahwa kepercayaan diri bukanlah diperoleh secara
instant, melainkan melalui proses yang berlangsung sejak usia dini, dalam
kehidupan bersama orangtua. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi
kepercayaan diri seseorang, namun faktor pola asuh dan interaksi di usia
dini, merupakan faktor yang amat mendasar bagi pembentukan rasa percaya
diri.Sikap orangtua, akan diterima oleh anak sesuai dengan persepsinya
pada saat itu. orangtua yang menunjukkan kasih, perhatian, penerimaan,
cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak,
akan membangkitkan rasa percara diri pada anak tersebut. Anak akan
merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai di mata orangtuanya. Dan,
meskipun ia melakukan kesalahan, dari sikap orangtua anak melihat bahwa
dirinya tetaplah dihargai dan dikasihi. Anak dicintai dan dihargai bukan
tergantung pada prestasi atau perbuatan baiknya, namun karena
eksisitensinya. Di kemudian hari anak tersebut akan tumbuh menjadi
individu yang mampu menilai positif dirinya dan mempunyai harapan yang
realistik terhadap diri – seperti orangtuanya meletakkan harapan realistik
terhadap dirinya.
Lain halnya dengan orangtua yang kurang memberikan perhatian pada
anak, atau suka mengkritik, sering memarahi anak namun kalau anak
berbuat baik tidak pernah dipuji, tidak pernah puas dengan hasil yang
dicapai oleh anak, atau pun seolah menunjukkan ketidakpercayaan mereka
pada kemampuan dan kemandirian anak dengan sikap overprotective yang
makin meningkatkan ketergantungan. Tindakan overprotective orangtua,
menghambat perkembangan kepercayaan diri pada anak karena anak tidak
belajar mengatasi problem dan tantangannya sendiri – segala sesuatu
disediakan dan dibantu orangtua. Anak akan merasa, bahwa dirinya buruk,
lemah, tidak dicintai, tidak dibutuhkan, selalu gagal, tidak pernah
menyenangkan dan membahagiakan orangtua. Anak akan merasa rendah
diri di mata saudara kandungnya yang lain atau di hadapan temantemannya.
Menurut para psikolog, orangtua dan masyarakat seringkali meletakkan
standar dan harapan yang kurang realistik terhadap seorang anak atau pun
individu. Sikap suka membanding-bandingkan anak, mempergunjingkan
kelemahan anak, atau pun membicarakan kelebihan anak lain di depan
anak sendiri, tanpa sadar menjatuhkan harga diri anak-anak tersebut.
Selain itu, tanpa sadar masyarakat sering menciptakan trend yang dijadikan
standar patokan sebuah prestasi atau pun penerimaan sosial. Contoh kasus
yang riil pernah terjadi di tanah air, ketika seorang anak bunuh diri garagara
dirinya tidak diterima masuk di jurusan A1 (IPA), meski dia sudah
bersekolah di tempat yang elit; rupanya sang orangtua mengharap anaknya
diterima di A1 atau paling tidak A2, agar kelak bisa menjadi dokter. Atau,
orangtua yang memaksakan anaknya ikut les ini dan itu, hanya karena
anak-anak lainnya pun demikian.
Situasi ini pada akhirnya mendorong anak tumbuh menjadi individu yang
tidak bisa menerima kenyataan dirinya, karena di masa lalu (bahkan hingga
kini), setiap orang mengharapkan dirinya menjadi seseorang yang bukan
dirinya sendiri. Dengan kata lain, memenuhi harapan sosial. Akhirnya,
anak tumbuh menjadi individu yang punya pola pikir : bahwa untuk bisa
diterima, dihargai, dicintai, dan diakui, harus menyenangkan orang lain dan
mengikuti keinginan mereka. Pada saat individu tersebut ditantang untuk
menjadi diri sendiri – mereka tidak punya keberanian untuk melakukannya.
Rasa percaya dirinya begitu lemah, sementara ketakutannya terlalu besar.
Pola Pikir Negatif
Dalam hidup bermasyarakat, setiap individu mengalami berbagai masalah,
kejadian, bertemu orang-orang baru, dsb. Reaksi individu terhadap
seseorang atau pun sebuah peristiwa, amat dipengaruhi oleh cara
berpikirnya. Individu dengan rasa percaya diri yang lemah, cenderung
mempersepsi segala sesuatu dari sisi negatif. Ia tidak menyadari bahwa dari
dalam dirinya lah semua negativisme itu berasal. Pola pikir individu yang
kurang percaya diri, bercirikan antara lain:
• Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri (“saya harus bisa
begini...saya harus bisa begitu”). Ketika gagal, individu tersebut
merasa seluruh hidup dan masa depannya hancur.
• Cara berpikir totalitas dan dualisme : “kalau saya sampai gagal,
berarti saya memang jelek”
• Pesimistik yang futuristik : satu saja kegagalan kecil, individu
tersebut sudah merasa tidak akan berhasil meraih cita-citanya di
masa depan. Misalnya, mendapat nilai C pada salah satu mata kuliah,
langsung berpikir dirinya tidak akan lulus sarjana.
• Tidak kritis dan selektif terhadap self-criticism : suka mengkritik diri
sendiri dan percaya bahwa dirinya memang pantas dikritik.
• Labeling : mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan sebutansebutan
negatif, seperti “saya memang bodoh”...”saya ditakdirkan
untuk jadi orang susah”, dsb....
• Sulit menerima pujian atau pun hal-hal positif dari orang lain : ketika
orang memuji secara tulus, individu langsung merasa tidak enak dan
menolak mentah-mentah pujiannya. Ketika diberi kesempatan dan
kepercayaan untuk menerima tugas atau peran yang penting, individu
tersebut langsung menolak dengan alasan tidak pantas dan tidak
layak untuk menerimanya.
• Suka mengecilkan arti keberhasilan diri sendiri : senang mengingat
dan bahkan membesar-besarkan kesalahan yang dibuat, namun
mengecilkan keberhasilan yang pernah diraih. Satu kesalahan kecil,
membuat individu langsung merasa menjadi orang tidak berguna.
Memupuk Rasa Percaya Diri
Untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional maka individu
harus memulainya dari dalam diri sendiri. Hal ini sangat penting mengingat
bahwa hanya individu yang bersangkutan yang dapat mengatasi rasa
kurang percaya diri yang sedang dialaminya. Beberapa saran berikut
mungkin layak menjadi pertimbangkan jika anda sedang mengalami krisis
kepercayaan diri.
1. Evaluasi diri secara obyektif
Belajar menilai diri secara obyektif dan jujur. Susunlah daftar “kekayaan”
pribadi, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri
baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang
dimiliki, serta kesempatan atau pun sarana yang mendukung kemajuan diri.
Sadari semua asset-asset berharga Anda dan temukan asset yang belum
dikembangkan. Pelajari kendala yang selama ini menghalangi
perkembangan diri Anda, seperti : pola berpikir yang keliru, niat dan
motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan
kesabaran, tergantung pada bantuan orang lain, atau pun sebab-sebab
eksternal lain. Hasil analisa dan pemetaan terhadap SWOT (Strengths,
Weaknesses, Obstacles and Threats) diri, kemudian digunakan untuk
membuat dan menerapkan strategi pengembangan diri yang lebih realistik.
2. Beri penghargaan yang jujur terhadap diri
Sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang anda
miliki. Ingatlah bahwa semua itu didapat melalui proses belajar, berevolusi
dan transformasi diri sejak dahulu hingga kini. Mengabaikan/meremehkan
satu saja prestasi yang pernah diraih, berarti mengabaikan atau
menghilangkan satu jejak yang membantu Anda menemukan jalan yang
tepat menuju masa depan. Ketidakmampuan menghargai diri sendiri,
mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan;
contoh: ingin cepat kaya, ingin cantik, populer, mendapat jabatan penting
dengan segala cara. Jika ditelaah lebih lanjut semua itu sebenarnya
bersumber dari rasa rendah diri yang kronis, penolakan terhadap diri
sendiri, ketidakmampuan menghargai diri sendiri – hingga berusaha matimatian
menutupi keaslian diri.
3. Positive thinking
Cobalah memerangi setiap asumsi, prasangka atau persepsi negatif yang
muncul dalam benak Anda. Anda bisa katakan pada diri sendiri, bahwa
nobody’s perfect dan it’s okay if I made a mistake. Jangan biarkan pikiran
negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar,
bercabang dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin sulit
dikendalikan dan dipotong. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai
pikiran dan perasaan Anda. Hati-hatilah agar masa depan Anda tidak rusak
karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Jika pikiran
itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di re-view kembali
secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa
pikiran itu ternyata tidak benar.
4. Gunakan self-affirmation
Untuk memerangi negative thinking, gunakan self-affirmation yaitu berupa
kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri. Contohnya:
• Saya pasti bisa !!
• Saya adalah penentu dari hidup saya sendiri. Tidak ada orang yang
boleh menentukan hidup saya !
• Saya bisa belajar dari kesalahan ini. Kesalahan ini sungguh menjadi
pelajaran yang sangat berharga karena membantu saya memahami
tantangan
• Sayalah yang memegang kendali hidup ini
• Saya bangga pada diri sendiri
5. Berani mengambil resiko
Berdasarkan pemahaman diri yang obyektif, Anda bisa memprediksi resiko
setiap tantangan yang dihadapi. Dengan demikian, Anda tidak perlu
menghindari setiap resiko, melainkan lebih menggunakan strategi-strategi
untuk menghindari, mencegah atau pun mengatasi resikonya. Contohnya,
Anda tidak perlu menyenangkan orang lain untuk menghindari resiko
ditolak. Jika Anda ingin mengembangkan diri sendiri (bukan diri seperti
yang diharapkan orang lain), pasti ada resiko dan tantangannya. Namun,
lebih buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa daripada maju
bertumbuh dengan mengambil resiko. Ingat: No Risk, No Gain.
6. Belajar mensyukuri dan menikmati rahmat Tuhan
Ada pepatah mengatakan yang mengatakan orang yang paling menderita
hidupnya adalah orang yang tidak bisa bersyukur pada Tuhan atas apa yang
telah diterimanya dalam hidup. Artinya, individu tersebut tidak pernah
berusaha melihat segala sesuatu dari kaca mata positif. Bahkan kehidupan
yang dijalaninya selama ini pun tidak dilihat sebagai pemberian dari Tuhan.
Akibatnya, ia tidak bisa bersyukur atas semua berkat, kekayaan,
kelimpahan, prestasi, pekerjaan, kemampuan, keahlian, uang, keberhasilan,
kegagalan, kesulitan serta berbagai pengalaman hidupnya. Ia adalah ibarat
orang yang selalu melihat matahari tenggelam, tidak pernah melihat
matahari terbit. Hidupnya dipenuhi dengan keluhan, rasa marah, iri hati
dan dengki, kecemburuan, kekecewaan, kekesalan, kepahitan dan
keputusasaan. Dengan “beban” seperti itu, bagaimana individu itu bisa
menikmati hidup dan melihat hal-hal baik yang terjadi dalam hidupnya?
Tidak heran jika dirinya dihinggapi rasa kurang percaya diri yang kronis,
karena selalu membandingkan dirinya dengan orang-orang yang membuat
“cemburu” hatinya. Oleh sebab itu, belajarlah bersyukur atas apapun yang
Anda alami dan percayalah bahwa Tuhan pasti menginginkan yang terbaik
untuk hidup Anda.
7. Menetapkan tujuan yang realistik
Anda perlu mengevaluasi tujuan-tujuan yang Anda tetapkan selama ini,
dalam arti apakah tujuan tersebut sudah realistik atau tidak. Dengan
menerapkan tujuan yang lebih realistik, maka akan memudahkan anda
dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian anda akan menjadi lebih
percaya diri dalam mengambil langkah, tindakan dan keputusan dalam
mencapai masa depan, sambil mencegah terjadinya resiko yang tidak
diinginkan.
Mungkin masih ada beberapa cara lain yang efektif untuk menumbuhkan
rasa percaya diri. Jika anda dapat melakukan beberapa hal serpti yang
disarankan di atas, niscaya anada akan terbebas dari krisis kepercayaan
diri. Namun demikian satu hal perlu diingat baik-baik adalah jangan
sampai anda mengalami over confidence atau rasa percaya diri yang
berlebih-lebihan/overdosis. Rasa percaya diri yang overdosis bukanlah
menggambar kondisi kejiwaan yang sehat karena hal tersebut merupakan
rasa percaya diri yang bersifat semu.
Rasa percaya diri yang berlebihan pada umumnya tidak bersumber dari
potensi diri yang ada, namun lebih didasari oleh tekanan-tekanan yang
mungkin datang dari orangtua dan masyarakat (sosial), hingga tanpa sadar
melandasi motivasi individu untuk “harus” menjadi orang sukses. Selain itu,
persepsi yang keliru pun dapat menimbulkan asumsi yang keliru tentang
diri sendiri hingga rasa percaya diri yang begitu besar tidak dilandasi oleh
kemampuan yang nyata. Hal ini pun bisa didapat dari lingkungan di mana
individu di besarkan, dari teman-teman (peer group) atau dari dirinya
sendiri (konsep diri yang tidak sehat). Contohnya, seorang anak yang sejak
lahir ditanamkan oleh orangtua, bahwa dirinya adalah spesial, istimewa,
pandai, pasti akan menjadi orang sukses, dsb – namun dalam perjalanan
waktu anak itu sendiri tidak pernah punya track record of success yang riil
dan original (atas dasar usahanya sendiri). Akibatnya, anak tersebut
tumbuh menjadi seorang manipulator dan dan otoriter – memperalat,
menguasai dan mengendalikan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia
inginkan. Rasa percaya diri pada individu seperti itu tidaklah didasarkan
oleh real competence, tapi lebih pada faktor-faktor pendukung eksternal,
seperti kekayaan, jabatan, koneksi, relasi, back up power keluarga, nama
besar orangtua, dsb. Jadi, jika semua atribut itu ditanggalkan, maka sang
individu tersebut bukan siapa-siapa. (jp)
sumber : www.e-psikologi.com


 Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™

Memupuk Rasa Percaya Diri Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis