Kumpulan Motivasi Hikmah

Senin, 23 Juli 2012

Percaya Dewa

  Percaya Dewa
Sebagai seorang umat beragama yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa,
sudah tentu kita memiliki kepercayaan dan keyakinan pada Nya (dalam
lingkup agama Tao adalah pada Dewa-Dewi). Dalam Siu Tao ( ), kepercayaan
kita kepada Dewa haruslah dari dasar kesadaran berpikir yang tinggi (Wu),
untuk menghindari timbulnya suatu keyakinan atau kepercayaan yang asalasalan
dan menjerumuskan kita kedalam ketahyulan.
Setelah itu dengan adanya landasan ini, maka seiring dengan proses
kesadaran yang tercapai kita terus memupuk kekuatan dan semangat
kemantapan hati pada rel kebenaran yang satu, untuk lebih mendekatkan
diri kita pada Nya (Dewa-Dewi), sehingga kemudian bisa menimbulkan nilainilai
moralitas yang kuat dalam diri kita. Hal ini disebabkan karena semua
nilai-nilai moralitas (kebajikan) yang ada itu, berdasar dan bersumber hanya
pada satu maha sumber yaitu "Kebenaran Hakiki" yang berada pada Tao
yang tertinggi.
Antara Percaya diri dan percaya Dewa
Tinggi rendahnya percaya diri ini bersifat sangat relatif sehingga dikatakan
tidak dapat diukur secara tepat sekali.
Tetapi secara umum tingkat kepercayaan diri seseorang dapat dikategorikan
dalam dua tingkatan kondisi penilaian umum, yang biasanya adalah
perbandingan antara pandangan realita umum dengan pandangan subjective
seseorang terhadap tingkat kemampuan untuk mencapai harapannya, yaitu:
Optimis
Kondisi percaya diri yang relatif tinggi, bersandar pada keyakinan bahwa
keadaan lingkungan dan kemampuan diri yang masih dalam ambang batas
kendali dan pengaruh untuk mencapai harapannya. Orang yang optimis
adalah orang yang mempunyai pandangan kedepan yang positif sehingga
biasanya mampu untuk mempertahankan asumsinya bahwa selalu ada jalan
keluar (pemecahan) positif pada setiap permasalahan yang ada. Optimisme
yang dimiliki seseorang inilah yang selalu menjadi pemicu semangat hidup
yang aktif, dinamis serta keberanian dan kemandirian baik untuk maju
maupun bertahan.
Pesimis
Adalah keadaan yang sebaliknya dari optimis, yaitu dimana kondisi percaya
diri relatif rendah yang biasanya karena akumulasi tekanan lingkungan dan
kondisi persaingan yang keras, yang selalu menghalangi seseorang untuk
mencapai harapan yang ada, sehingga mengikis bahkan mengubur
kepercayaan dan semangat diri yang ada. Orang yang pesimis biasanya
pasif, tidak bersemangat, ragu-ragu, dan cenderung tergantung pada orang
lain.
Sesuai dengan semangat bebas-optimis, optimisme adalah sesuatu yang baik
dan sehat. Tetapi optimisme terhadap semua hal tanpa batas dapat
menyeret kita kedalam optimisme ngawur, dan menimbulkan banyak
masalah dalam prakteknya, yang dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Dari sudut kepentingan / motivasi: optimisme untuk kepentingan yang
egois, terselubung. Misalnya: kita optimis bahwa kita memiliki
kemampuan untuk diangkat sebagai direktur. Oleh karena itu, maka
kita giat menyingkirkan lawan-lawan kita dengan cara yang picik.
2. Dari sudut arah / manfaat: optimisme untuk sesuatu yang mubazir.
Misalnya: kita optimis bahwa suatu saat nanti tangan kita bisa
mengeluarkan asap. Disini, kadang kala kita menyebutnya sebagai
sikap yang mengada-ada.
3. Dari sudut scope of concern: optimisme terhadap sesuatu yang diluar
kendali / pengetahuan / jangkauan kita. Misalnya: kita mengharapkan
semua orang setuju dengan pendapat kita. Optimisme jenis ini sering
kita sebut sebagai mimpi di siang bolong.
Kesimpulan
Sebagai seorang Tao Yu ( ), dalam menjalani hidup sehari-hari maupun
dalam aspek Siu Tao ( ) nya, kita selalu dibimbing dan diarahkan oleh Dewa
menuju kebenaran. Percaya diri, motivasi, pemahaman realita dan cara
bersikap yang benar adalah hasil kesadaran yang timbul intuitive. Intuitive
ini diperoleh dari kemampuan dan pola berpikir, akumulasi pengalaman
serta kepekaan terhadap lingkungan.
Percaya diri dan percaya Dewa adalah dua masalah berbeda yang penting.
Hanya dengan memiliki keduanyapun ternyata dapat menjadi konyol,
apalagi tidak disertai pemahaman yang benar. Antara percaya diri dan
percaya Dewa memang merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan,
Keduanya adalah hal yang abstract dan terbentuk melalui proses maka
sangat sulit bagi kita untuk mengendalikannya secara langsung. Salah satu
pendekatan yang dapat kita lakukan adalah dari sikap kita sehari-hari.
Sikap Sportif
Melanjuti apa yang saya uraikan diatas, maka jelaslah bahwa kita harus
memiliki percaya diri yang tebal sekaligus percaya pada Dewa. Keduanya
merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan serta harus memiliki
landasan dan arah yang benar. Tanpa landasan dan arah maka keduanya
akan bisa mengarah pada yang keliru.
Dalam pemikiran, kadang-kadang kita mempermasalahkan mana yang lebih
penting. Sebenarnya keduanya itu tidak mungkin bisa kita ukur. Apakah
ukurannya? Terlebih lagi, keduanya memang tidak perlu diukur. Dan
mengenai mana yang lebih penting, jelaslah bahwa keduanya merupakan
kesatuan yang tidak terpisahkan sehingga dua-duanya penting.
Dalam kehidupan sehari-hari, pemecahan masalah tergantung pada
konteksnya. Dengan kerangka berpikir yang saya berikan diatas maka
jelaslah bahwa untuk masalah-masalah yang menyangkut pribadi dan dalam
ruang kepedulian (scope of concern) kita, maka pengenalan diri pribadi kita
akan lebih menentukan pengambilan keputusan kita. Hal itu terjadi secara
spontan dan bukan karena kita kurang percaya pada Dewa. Sebaliknya,
untuk masalah-masalah yang menyangkut sesuatu diluar jangkauan kita
(misalnya: masa depan), kepercayaan diri kita harus dibangun melalui suatu
kemantapan hati yang kita peroleh dari percaya kepada Dewa.
Nah, untuk dapat merintis ke arah tersebut maka dalam proses
pembentukan dan pengembangan percaya diri dan percaya Dewa, baik
dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, maupun dalam ber-Siu
Tao, ada satu sikap mental dunia olah raga yang sekiranya baik dan cocok
menjadi bagian sikap mental dan kepribadian seorang Tao Yu, yaitu
sportifitas (sifat-sifat sportif).
Sportifitas ini mengekspresikan suatu kekuatan dan semangat keuletan
untuk maju yang positif. Jujur dan adil, kerendahan hati, keterbukaan,
lapang dada, kebersamaan / persahabatan, dll. Kepercayaan diri yang
menyatu dengan percaya Dewa (ketulusan dan kemantapan hati pada yang
satu), diimbangi sikap mental dan kepribadian yang sportif akan
menimbulkan kharisma positif dari dalam diri kita.
Sikap sportif ini saya rasa dapat berguna jika kita memang ingin memiliki
percaya diri dan percaya Dewa yang benar dan solid.
sumber : indonesia.siutao.com


Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™

Percaya Dewa Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis