Kumpulan Motivasi Hikmah

Senin, 23 Juli 2012

Percaya Diri Bahan Bakar Menuju Sukses

 Percaya Diri Bahan Bakar Menuju Sukses
Orang tua mana yang tak bangga melihat buah hatinya memiliki rasa
percaya diri yang tinggi. Sebab, percaya diri alias pede merupakan salah
satu modal kuat dalam meraih masa depan. Sayangnya, keinginan agar
buah hati memiliki rasa percaya diri tinggi, sering tak dibarengi sikap orang
tua. Malah orang tua secara tak sadar sering merusak harga diri anak yang
ujung-ujungnya membuat anak minder alias tak percaya diri.
“GIMANA sih kamu, masa memakai baju saja tak rapi. Sini mama
betulkan.”
Mungkin kalimat ini sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari
antara ibu dan anak. Tapi tahukah dampak dari kalimat “biasa” tersebut?
Psikolog perkembangan Alva Handayani, S.Psi. mengungkapkan, kalimat itu
bisa mematahkan keyakinan anak bahwa dirinya mampu memakai pakaian
dengan benar. “Hati-hati dengan kalimat negatif seperti itu. Kamu bandel,
kamu nakal, atau kamu bodoh adalah kalimat-kalimat negatif yang bisa
menanamkan kepercayaan pada anak bahwa ia memang seperti itu,” ujar
Alva.
Seorang anak yang dibawa bertamu oleh orang tuanya misalnya, bisa
merasa memang dirinya pemalu akibat kalimat yang keluar dari orang
tua,”Maaf ya, anak saya ini pemalu.”
Sayangnya, anak-anak ternyata lebih sering menerima kalimat-kalimat
negatif dibandingkan kalimat positif. Tidak saja di bumi pertiwi ini, juga di
berbagai belahan negara lainnya. Mengutip penelitian yang dilakukan di
Amerika Serikat, Alva menyebutkan, setiap hari anak mendapat perkataan
negatif sebanyak 750 kata. Sebaliknya mereka hanya memperoleh kata
positif sebanyak 65 kata per hari!
“Bandingkan betapa porsi kata negatifnya lebih banyak dari kata positif.
Menurut penelitian tersebut, kata negatif yang diperoleh anak datang tidak
saja dari orang tuanya, tetapi dari lingkungan lainnya seperti nenek, teman,
saudara, bahkan gurunya,” ucap Alva, prihatin.
Padahal, untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, salah satu
pupuk mujarab adalah dengan memberi mereka kata-kata positif, salah
satunya berupa pujian jika anak melakukan sesuatu yang baik. Akan tetapi,
pujian tersebut juga tidak boleh berlebihan. Jika porsi pujian diberikan di
luar kewajaran, malah akan menjadi bumerang bagi anak, yaitu menjadikan
anak overconfidence alias terlalu pede.
Ketika anak sudah terlalu pede, ia akan sulit menerima feedback atau saran
dari orang lain. Ia akan selalu merasa benar dan menyalahkan orang lain.
Dengan sifat demikian, dalam hubungan sosial tentu saja ia akan dijauhi
oleh lingkungannya.
**
MENUMBUHKAN rasa percaya diri pada anak ibarat memperlakukan
tunas tumbuhan. Tunas tersebut bisa saja tumbuh hanya dengan bantuan
alam, namun alangkah lebih suburnya jika kita ikut menyirami dan
memupuk tunas yang tersebut.
Menurut Alva, banyak hal yang bisa dilakukan orang tua dalam membantu
anak memperoleh rasa percaya diri. “Misalnya, saat anak bertanya orang tua
bisa menunjukkan rasa antusiasmenya untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Lebih jauh bahkan mendorong anak untuk terus bertanya lagi,
misalnya dengan ‘Oke, kamu mau tanya apa lagi?” Kebiasaan ini membuat
anak kelak berani bertanya di kelas. Jika anak tidak dilatih berani bertanya
di rumah, di sekolah ia bisa kebingungan dan takut terhadap komentar
teman atau gurunya jika ia bertanya sesuatu,” tutur Alva.
Rasa percaya diri juga ditumbuhkan melalui hal-hal yang kelihatan sepele
namun sangat bermanfaat, misalnya melibatkan anak dalam mengambil
keputusan di rumah.
“Contohnya anak diminta untuk mengusulkan akan ke mana pada liburan
kali ini. Kalaupun kelak usulan itu ternyata tidak masuk akal atau tidak
bisa dipenuhi, anak tetap diberi penghargaan atas usulannya. Dan orang tua
menjelaskan dan memberikan alasan yang masuk akal mengapa mereka tak
bisa menerima usulan tersebut,” katanya.
Untuk membuat anak percaya diri, orang tua harus melakukan pola asuh
yang menstimulus atau merangsanag rasa percaya diri anak. Orang tua juga
bisa membantu anak mendapatkan rasa percaya diri dengan mencari
sumber percaya diri tersebut, yaitu potensi diri.
Potensi diri pada masing-masing anak bisa berbeda-beda. Ada yang bisa
digali dari hasil akademisnya atau prestasi di sekolahnya. Namun, bukan
berarti anak yang tidak berprestasi di sekolah tak memiliki sumber percaya
diri tersebut. Potensi diri anak bisa digali dari jalur lainnya, misalnya
kemampuan menyanyi, menari, atau juga sifat baik hati, ringan tangan, dan
sebagainya.
Hal yang hampir sama dikemukakan International Director John Robert
Power untuk Indonesia, Indayati Oetomo. Menurutnya, seorang anak yang
pede tidak selalu berarti pandai, namun ia berani tampil dan mampu
bersosialisasi dengan baik. “Anak itu juga biasanya atraktif,” katanya di
sela-sela acara pencarian anak-anak pede “Bintang Pede Brseragam Putih
Surf”, Minggu (27/8).
Berkaitan dengan pemumpukan rasa percaya diri ini, Alva merasa tidak sreg
dengan sistem peringkat di kelas. Peringkat kelas yang dibuat merujuk
emampuan akademik bisa membuat anak yang tidak masuk jajaran besar
merasa rendah diri dan menganggap dirinya bodoh.
Kejadian lucu namun juga mengaharukan terjadi pada salah seorang klien
kecil Alva. Anak lugu yang baru kelas 1 SD tersebut bingung ketika tak
mendengar namanya disebutkan dalam perolehan 10 besar murid di
kelasnya. Ia berkata pada orang tuanya, “Ibu guru kayaknya ngggak kenal
aku ya?”
Ketika sekelompok orang setuju dengan sistem peringkat nilai akademik
dengan alasan untuk mengetahaui kemampuan akademik anaknya, menurut
Alva bisa disiasati dengan cara menanyakan langsung kepada guru yang
bersangkutan. Guru boleh mengurutkan anak berdasarkan jumlah nilainya,
namun tidak diumumkan langsung pada anak-anak. Orang tua yang
berkepentingan bisa menanyakannya diam-diam.
**
MENANAMKAN sikap percaya diri hendaknya dilakukan sedini mungkin,
terutama pada anak umur 5 hingga 12 tahun, saat didikan orang tua
tertanam baik di otak anak.
Karena sifatnya bukan instan, sebaiknya rasa pede dipupuk sejak kecil. Jika
sejak kecil anak sudah memiliki rasa pede yang kuat, lebih mudah untuk
mengembangkan diri dan potensi yang ada pada dirinya,” ujar Indayati.
Menurut Indayati, rasa pede adalah bahan bakar utama keberhasilan
seseorang dalam hidup ini. “Begitu bahan bakar itu didapat, tercapainya
keberhasilan dalam segala kegiatan hanya masalah waktu, tergantung
usaha yang dilakukan seseorang,” katanya.
Saat orang tua ingin anaknya pede, sebaiknya ia tidak overprotective,
namun tut wuri handayani. “Lepaskan anak untuk berkiprah dan orang tua
mendorong dari belakang. Jangan terlalu banyak larangan, sehingga anak
nanti ketakutan sendiri. Jangan menargetkan sesuatu untuk anak. Obsesi
orang tua justru akan menekan anak. Berikan anak kenyamanan, bukan
tekanan,” kata Indayati.
Intervensi yang terlalu banyak dari orang tua, kata Indayati, akan
mematikan kreativitas anak. Makanya, ia menyarankan, orang tua melatih
anak sedini mungkin untuk ikut berkompetisi, berani tampil, sehingga ia
kelak menjadi pede. (Ella/”PR”/Uci)***
Sumber : pikiran-rakyat.com



 Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™

Percaya Diri Bahan Bakar Menuju Sukses Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis