Kumpulan Motivasi Hikmah

Rabu, 01 Agustus 2012

Cerita Rakyat: Menebus Karma Secara Tuntas

 Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™


Cerita Rakyat:
Menebus Karma Secara Tuntas
(Erabaru.or.id) Sebuah kisah yang terjadi di masyarakat pada zaman Song Utara sewaktu Bao Zheng menjabat sebagai Xiang (Sebuah jabatan tinggi pada zaman Tiongkok kuno).
Di sebuah desa tinggal seorang anak berusia sekitar 10 tahun, menderita cacat pada kaki, yatim piatu dan hidupnya sangat menderita dan mengandalkan bantuan dari para tetangga dan warga desa atau mengemis demi menyambung hidup. Di depan desa ini mengalir sebuah sungai, warga desa dan pendatang harus berbasah-basah melewatinya, terutama bagi orang tua yang berusia lanjut sangat tidak nyaman. Setiap kali air sungai meluap orang tidak bisa menyebrang. Namun tahun berganti tahun, siapa pun tidak ada yang ingin mengubahnya.
Setiap hari orang melihat anak cacat tersebut memungut batu dan meletakkannya di tepi sungai. Setiap kali ditanya untuk apa batu-batu itu, ia menjawab mau membangun sebuah jembatan batu, agar tetangga dan warga desa bisa leluasa berjalan melewatinya. Orang-orang tidak menanggapinya, mereka beranggapan anak tersebut sedang bicara ngawur, malah kebanyakan orang tertawa meledeknya. Namun lambat laun, bulan berganti tahun, bebatuan tersebut telah menumpuk menjadi gunung. Para tetangga dan warga desa mulai berubah pendiriannya dan merasa terharu dengan semangat anak tersebut sehingga ikut membantu memilah dan memungut batu serta membangun jembatan batu.
Para warga lantas mengundang tukang batu dan memulai dengan pembangunan jembatan batu. Anak cacat tersebut dengan sepenuh jiwa dan raga berpartisipasi di dalamnya. Belum sampai jembatan itu selesai dibangun, anak tersebut sewaktu membelah batu terluka sehingga kedua matanya menjadi buta. Orang-orang menyayangkan dan menggerutu serta menyalahkan Tuhan tidak adil. Anak yang begitu patut dikasihani, yang telah sepenuh hati berkorban demi orang banyak malah memperoleh akibat karma seperti itu. Akan tetapi anak tersebut sama sekali tidak mengeluh, setiap hari muncul di proyek pembangunan jembatan itu meskipun tertatih-tatih, dengan meraba-raba ia mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.
Akhirnya jembatan bisa selesai dibangun setelah melalui gotong royong dari semua warga. Semua orang di pesta syukuran itu tidak ada yang tidak menatap anak yang sebelumnya sudah cacat kaki dan hidup sebatang kara, dan sekarang ditambah dengan buta kedua matanya tersebut dengan rasa iba dan rasa sayang. Si anak meski tidak bisa melihat apa pun, tetapi tampak pada wajahnya senyum dan tawa yang paling berbahagia di masa kehidupannya.
Di luar dugaan orang hujan deras yang tidak sesuai dengan musim, seolah-olah hendak mencuci debu yang menempel di jembatan batu tersebut, turun dengan gemuruh seakan menunjukkan pamornya. Dan, sebuah petir raksasa dengan ledakan yang bisa memecahkan gendang telinga sesaat berlalu. Para warga menemukan anak tersebut telah tersambar petir dengan telak, roboh terkapar di tanah dan mati. Semuanya tersentak kaget, kemudian diikuti dengan luapan perasaan yang sedih, mengeluh kenapa si anak begitu buruk nasibnya, dan menuding Tuhan tidak adil....
Saat itu kebetulan Bao, yang dijuluki oleh rakyat kecil sebagai Tuan Besar yang Bersih dan Adil dalam perjalanan dinasnya melewati tempat itu. Rakyat berbondong-bondong menghadang tandu pejabat tersebut untuk memohon keadilan bagi si anak malang. Dengan kritis mereka bertanya, "Mengapa orang baik tidak memperoleh imbalan baik? Untuk selanjutnya bagaimana bisa menjadi orang yang baik?" Tuan besar Bao yang kenyang makan asam garam dunia, hatinya sempat tergerak oleh emosi penduduk desa tersebut, lantas mengayun mopit dan menuangkan tulisan 6 aksara: "Mana-boleh Berbuat Jahat Tidak Berbuat Bajik", kemudian mengibas lengan bajunya (yang panjang) sambil berjalan menjauh.
Kembali ke kota raja, si tuan besar Bao menghadap sang baginda untuk melaporkan hasil perjalanan dinas dan semua peristiwa yang telah dilihat dan didengarnya, tapi tentang cerita tuangan tulisannya malah tidak diungkap. Karena walau di dalam hatinya sangat tidak memahami tentang masalah si anak yang berbuat kebajikan malah menuai imbalan buruk, tapi setelah dipertimbangkan berulang-ulang tetap merasa tidak pantas telah menuangkan tulisan 6 aksara seperti itu. Tak dinyana sang raja setelah selesai dinas kerajaaan mengharuskannya datang ke bagian belakang istana untuk membicarakan persoalan pribadi.
Ternyata beberapa hari sebelumnya, baginda telah dikaruniai seorang anak lagi yang sangat menggemaskan semua orang, akan tetapi si bayi sepanjang hari menangis terus, untuk itu ia khusus mengundang si Bao menengoknya. Terlihat oleh si Bao bahwa kulit bayi tersebut mulus bagai salju dan pada tangan mungilnya terdapat satu baris tulisan. Setelah dilihat lebih dekat, itu justru adalah enam aksara "Mana-boleh Berbuat Jahat Tidak Berbuat Bajik" yang telah ditulisnya. Sekejap mukanya memerah hingga ke pangkal lehernya, segera saja ia mengulurkan tangannya untuk menghapus tulisan tersebut. Anehnya, tulisan itu dalam sekejap telah lenyap tak berbekas.
Sang baginda yang menyaksikan tetenger (toh) pada tangan sang putra mahkota itu telah dihapus oleh si Bao, kecewa. Jangan-jangan akar rejeki telah dihapus lenyap, tanpa tedeng aling-aling dan tanpa ampun ia mencela tindakan Bao Zheng. Si Bao Cheng secepatnya bersujud dengan berkata, “Hamba yang berdosa patut mati.” Maka diceritakanlah sejelasnya hal ihwal tuangan tulisannya itu. Sang baginda sangat merasa persoalan itu janggal sehingga memerintahkan si Bao menggunakan “bantal” Yin Yang untuk menyelidiki dengan tuntas sampai ke neraka.
Sang tuan Bao Zheng melalui perantara “bantal” Yin Yang berkelana sejenak ke neraka maka tuntaslah sudah wujud sejati kejadiannya. Ternyata si anak malang tersebut pada masa kehidupan sebelumnya telah sering berbuat jahat dan karma buruknya sangat besar. Untuk melunasi dosa kejahatan pada satu masa kehidupan tersebut memerlukan tiga masa kehidupan baru bisa melunasi imbalan jahatnya dengan tuntas. Sebenarnya Dewa telah mengatur, pada masa kehidupan pertama dengan badan cacat dan sebatang kara; masa kedua dengan sepasang mata buta dan hidup sengsara, dan pada masa kehidupan ketiga ia tersambar petir terkapar mati di ladang liar.
Anak tersebut pada reinkarnasi masa kehidupan pertama terlahir cacat badan dan sangat miskin, tetapi ia selalu ingin berbuat baik kepada orang lain untuk menebus dosa pada masa lampau. Karena itu Dewa lantas mengatur agar pada masa kehidupan pertama, ia bisa melunasi karma kedua masa. Untuk itu dibuatlah terluka kedua matanya sampai buta. Namun anak tersebut tidak mencela Langit dan menyalahkan orang lain, tetap saja tanpa sepatah kata pun berbuat kebaikan demi orang lain. Maka Dewa mengatur karma yang semestinya dibayar pada masa kehidupan ketiga sekaligus dituntaskan pada satu masa kehidupan, oleh karena itu mati tersambar petir.
Raja neraka bertanya kepada Bao Zheng, tiga masa karma buruk telah dilunasi pada satu masa, coba Anda bilang ini baik apa tidak? Satu masa kehidupan melunasi hutang karma tiga masa kehidupan, oleh karena ia tekun melaksanakan kebajikan, dalam hatinya hanya memikirkan orang lain, nyaris tidak memikirkan diri sendiri, dalam beberapa bidang tertentu telah mencapai taraf tingkatan. "Tidak berkultivasi Tao namun berada di dalam Tao", telah mengakumulasi berkah sangat banyak, oleh sebab itu sesudah meninggal dengan segera reinkarnasi sebagai putra mahkota, menikmati kemujuran sebagai putra Langit.
(Sumber: Minghui School)

Cerita Rakyat: Menebus Karma Secara Tuntas Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis