Kumpulan Motivasi Hikmah

Rabu, 01 Agustus 2012

Dahulu kala tersebutlah seseorang yang bernama Zhao Wangye bermarga Zhang

 Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™



Dewa Dapur
(Erabaru.or.id) Dahulu kala tersebutlah seseorang yang bernama Zhao Wangye bermarga Zhang, sebenarnya dia seorang yang bertingkah laku buruk dan selalu melakukan kejahatan, tapi, mengapa Maharaja Giok (dewa tertinggi dalam agama Tao) mengizinkannya menjadi Zhao Wangye atau Dewa Dapur? Sebab meskipun dia telah banyak berbuat jahat, namun, begitu terlintas dalam benak sebersit ketulusan, telah melakukan satu hal yang baik, karena itu Maharaja Giok memaafkannya.
Sebelum menjadi Zhao Wangye, dia adalah seorang yang pemalas, tidak bekerja dan gemar berjudi. Karena kegemarannya berjudi, ia dapat mempertaruhkan segala apa yang dimilikinya. Dia tidak memikirkan masa depannya. Hingga pada suatu ketika, dia bertaruh (judi) dengan seseorang, bukan saja menghabiskan seluruh harta keluarga, lebih buruknya lagi istrinya pun dipertaruhkan. Oleh karena itu istrinya kemudian menikah lagi dengan seorang pencari kayu bakar.
Karena kalah berjudi itu habislah sudah seluruh harta benda keluarga yang dia miliki tanpa sisa bahkan dia masih memiliki sejumlah utang pada beberapa orang. Sampai suatu kali dia tidak dapat membeli makanan. Dia lalu menemui mantan istrinya yang dijual itu. Beruntunglah ia karena mantan istrinya sangat pengasih, meskipun telah dijual, dia tetap memberikan beberapa buah bacang, bahkan secara diam-diam menyelipkan 10 tael (mata uang Tiongkok kuno) ke dalam bacang, dan memberitahu kepadanya: “Ambillah bacang ini, jangan kasih orang lain ya!” Begitu dia pergi, kebetulan seseorang datang menagih utang padanya, “Cepat bayar utangmu!”
Saya tidak punya uang,” jawabnya.

Apa, tidak punya uang? Lalu yang ditanganmu itu apa?”
Makanan!”
Makanan juga boleh!” Akhirnya bacang itu dirampasnya.
Setelah bacang itu dirampas, dia kembali menemui istrinya. Istrinya bertanya padanya, ”bacangnya mana?” Dirampas orang!” Katanya. Tepat ketika pembicaraan sampai di situ, si suami yang seorang penebang kayu bakar itu pun pulang, Zhao Wangye kebingungan mencari tempat untuk sembunyi, lalu dia bergegas masuk ke dalam tungku. Si penebang kayu bakar ini kelelahan peluhnya membasahi tubuhnya sambil memikul setumpuk kayu bakar, dia hendak mandi sekembalinya memotong kayu bakar. Dan dia benar-benar baik terhadap istrinya dengan mengatakan, “Biarlah air panasnya saya yang siapkan.” Istrinya bergegas berkata, “O, jangan! Jangan! Biarlah saya nyalakan!“ Tapi, suami barunya ini bersikeras, lalu mengambil kayu bakar dan dinyalakan di dalam tungku.
Zhao Wangye bersembunyi di dalam dan memutuskan tidak keluar. Di benaknya dia berpikir, “jika saya keluar, sang istri pasti akan dipukul sama suaminya! Dia lebih baik mengorbankan diri, akhirnya dia tewas terbakar hidup-hidup.
Setelah tewas terbakar, setiap pagi, siang maupun malam mantan istrinya itu membakar dupa dan sembahyang di depan tungku. Melihat itu, suaminya bertanya, “Lho! Aneh! Kenapa setiap pagi, siang atau malam kamu selalu menyembahyangi tungku?” Tentu saja dia tidak boleh mengatakan kalau mantan suaminya itu mati terbakar di tungku tersebut, dan dengan sangat terpaksa dia berkata, “Kita manusia bisa hidup di dunia, harus bersyukur pada tungku dan kompor, sebab benda-benda ini memasak nasi untuk kita.” Kemudian belakangan orang-orang merasa kata-katanya memang benar, “Kita harus bersyukur pada tungku dan kompor. Seandainya tidak ada tungku dan kompor, kita tidak bisa hidup!” Lalu, tiap-tiap keluarga menyembahyangi tungku dan kompor di rumah mereka.
Setelah Maharaja Giok mengetahui hal ini, ia mengampuni semua kesalahan Zhao Wangye dan Maharaja Giok menobatkannya sebagai Zhao Wangye (Dewa Dapur), dan memberi perintah kepadanya bahwa setiap 24 Desember tahun Imlek naik ke istana langit untuk memberi laporan yang disebutKebaikan di langit, kedamaian di bumi. Demikianlah asal usul legenda tentang Zhao Wangye.
(Sumber: Mingxin)

Dahulu kala tersebutlah seseorang yang bernama Zhao Wangye bermarga Zhang Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis