Kumpulan Motivasi Hikmah

Minggu, 05 Agustus 2012

“Jujur itu paling baik”

 

Dalam hidup, anda tak akan selalu mendapatkan apa yang paling anda inginkan, terkadang anda hanya mendapat pelajaran yang sebenarnya lebih anda butuhkan.

 Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™ .

  “Jujur itu paling baik”



alt
Kampak (Design by Knyzhin Basil)
Aesop adalah seorang pendongeng (storyteller) yang hidup di Yunani sekitar 600 tahun sebelum Masehi. Yang istimewa dari Aesop adalah, ia menuangkan kebijakannya atau kadang kritikannya dalam bentuk cerita binatang atau fabel.
Kampak sangat penting artinya bagi seorang penebang pohon. Tanpa alat ini, ia tak bisa bekerja. Dan kalau tak bisa bekerja, ia akan kehilangan mata pencaharian. Apa yang akan terjadi bila seorang penebang pohon kehilangan mata pencahariannya?

Penebang pohon sedang menebang pohon besar dengan kampaknya yang besar di pinggir sungai.  Ada seorang kaya yang memesan pohon besar itu
untuk dibuat rumah.

Dengan itu ia akan mendapat upah yang besar. Ia bersyukur karena isterinya sudah kehabisan beras, dan perlu membeli susu untuk bayinya yang masih kecil. Ingat anaknya, ia lalu bersemangat mengayun kampaknya.

 Ia harus menyelesaikan pekerjaannya hari ini, dan memotong-motongnya sesuai ukuran masing-masing. Ia membayangkan setelah selesai nanti ia akan menerima bayaran yang cukup untuk beli beras dan susu untuk satu bulan!

Tiba-tiba… blang!...kampak itu terlepas dari genggaman tangannya, dan bum! Kampak terlempar jatuh ke  sungai dan masuk ke dalam air yang dalam.

Si penebang pohon duduk di pinggir sungai dengan sedih. Tak mungkin ia masuk sungai itu. Selain airnya deras dan dalam, sungai itu juga banyak buayanya.

Kehilangan kampak, bagaimana ia bisa menyelesaikan penebangan pohon itu. Dan  tanpa penyelesaian kerjanya, bagaimana ia akan mendapat bayaran? Dan tanpa uang bayaran, bagaimana mungkin ia membeli beras dan susu untuk anaknya?

Penebang pohon menangis sedih di pinggir sungai. Mercurius, dewa penjaga sungai yang bersemayam di dasar sungai, muncul ke permukaan dan bertanya: “Hai penebang pohon, kenapa kau menangis sedih?”

Penebang pohon lalu menceritakan perihal kampaknya yang jatuh tenggelam ke dasar sungai. Mendengar itu Mercurius lalu masuk ke dalam sungai, dan sebentar kemudian muncul kembali, membawa sebuah kampak emas.

“Apakah ini kampakmu yang tenggelam itu?” tanya Mercurius.

Penebang pohon menggeleng sedih. “Bukan,” jawabnya. “Itu bukan kapakku.”

Mercrius masuk kembali ke dalam sungai, dan keluar dengan kampak perak. Lagi ia bertanya kepada penebang pohon.

“Ini kampakmu?” tanya Mercurius.

Lagi-lagi penebang pohon menggeleng sedih.

“Bukan, itu bukan kampakku,” jawabnya.

Mercurius masuk kembali ke dalam air. Lalu muncul lagi dengan kampak besi.

Serta merta penebang pohon kegirangan.

“Nha, itu kampakku! Itu kampakku! Bolehkah aku minta kembali?”

Mercurius dengan senang hati memberikan kampak si penebang pohon. Ia juga sangat terkesan dengan kejujuran si penebang pohon. Ia sama sekali tidak tergiur dengan kampak emas dan kampak perak karena bukan miliknya.

Mercurius lalu menghadiahinya dengan kampak emas dan kampak perak sekaligus.

Ia ceritakan pengalamannya kepada temannya, sesama penebang pohon.

“Aku akan coba peruntunganku,” pikir temannya. Ia melakukan yang sama
seperti si penebang pohon. Ia pura-pura menebang pohon, dan sengaja menjatuhkan kampaknya sampai tenggelam masuk ke dasar sungai. Lalu pura-pura menangis di pinggir sungai.

Tak lama kemudian Mercurius muncul, dan bertanya apa yang terjadi.

“Kampakku jatuh tenggelam ke dasar sungai,” katanya pura2 sedih.

Mercurius segera masuk ke dalam sungai, dan muncul kembali dengan kampak emas.

“Apa ini kampakmu?” tanya Mercurius.

“Betul, betul! Itu kampakku yang tenggelam ke dasar sungai,” teriaknya sambil berusaha merebut kampak itu dari tangan Mercurius. Tentu saja Mercurius lebih sigap menghindar.

“Kamu pembohong!” kata Mercurius sambil masuk ke sungai dengan kampak emasnya.

Si pembohong pun gigit jari. Bukan saja ia tidak mendapatkan kampak emas, ia juga kehilangan kampak yang ia jatuhkan ke dasar sungai.

Akan halnya si penebang pohon yang pertama, ia jual kampak emasnya, uangnya dipakai sebagai modal usaha. Ia kini jadi pedagang yang kaya dan tetap jujur. Dari kisaha ini diintisarikan bahwa “Jujur itu paling baik”. (Alex)

“Jujur itu paling baik” Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis