Kumpulan Motivasi Hikmah

Minggu, 05 Agustus 2012

Kegigihan Belajar Berbuah Kesuksesansebuah kantong sutra putih

 Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™
 
alt
Ilustrasi
Pada zaman Dinasti Jin, ada seorang pria bernama Che Yin yang gemar belajar. Tetapi karena kondisi keluarganya yang miskin, ayahnya tidak mampu menyediakan kondisi yang ideal baginya untuk belajar.
Keluarga itu untuk cukup bertahan hidup, mereka bahkan tidak bisa membeli minyak lampu bagi anaknya untuk belajar di malam hari, sehingga putranya hanya bisa belajar di siang hari.
Pada suatu malam di musim panas, ketika Che Yin sedang belajar, Ia tiba-tiba melihat banyak kunang-kunang menerangi langit. Mereka bagaikan secercah cahaya dalam kegelapan langit yang pekat. Dia mendapat sebuah ide: Jika banyak kunang-kunang dikumpulkan dalam sebuah wadah bersama-sama, mereka mungkin bisa berfungsi seperti sebuah lampu.

Ide yang didapatkannya ini, ia menemukan sebuah kantong sutra putih, menangkap  kunang-kunang sebanyak yang dia bisa, dan kemudian menggantung kantong ini. Meskipun tidak seterang lampu, itu bekerja cukup baik sehingga ia bisa menggunakan cahayanya untuk membaca.

Sejak saat itu, jika ada kunang-kunang di sekitarnya, ia akan menggunakannya sebagai lampu untuk belajar. Karena kegigihannya dalam belajar, dan berlatih keras, dalam hidupnya ia menjadi pejabat senior kemudian hari.

Karena tidak punya uang untuk membeli minyak lampu, Sun Kang tidak bisa membaca di malam hari, ia tidak punya pilihan lain selain pergi tidur lebih awal. Ia berpikir bahwa membuang-buang waktu seperti ini adalah sangat disayangkan.

Suatu hari, pada tengah malam, ia terbangun dari mimpi, dan melihat bahwa ada seberkas sinar yang masuk dari celah jendela. Cahaya ini dipantulkan oleh salju dan berasal dari sinar bulan, dan cukup terang untuk digunakan untuk membaca.

Dia melihat ini, dan memutuskan untuk berpakaian, segera mengambil buku-bukunya. Cahaya yang dipantulkan dari salju di tanah membuat daerah luar rumah menjadi lebih terang daripada bagian dalam ruangan. Meskipun malam begitu dingin,  Sun Kang mulai belajar diterangi oleh cahaya bulan. Jika ia kedinginan, ia beristirahat sejenak untuk berlari-lari dan menghangatkan tangannya.

Sejak saat itu, setiap kali ada salju di tanah, ia menggunakan kesempatan itu untuk belajar. Tekadnya memungkinkan dia maju pesat, dan memberinya kesempatan untuk menjadi orang yang terpelajar. Dalam hidupnya, dia juga menjadi seorang pejabat senior di kemudian hari.

Idiom "Cahaya yang dipantulkan oleh salju atau dikumpulkan dari kunang-kunang" sekarang digunakan untuk merujuk pada mereka yang gigih belajar dalam keadaan sulit. (secretchina/wid)
Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis. Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika. Mandikan Aku Bunda Mandikan Aku Bunda Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir. Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. ”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini. Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga. Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya. Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri. Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?” Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua. – Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong. – Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. – Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu. – Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada. MEREKA LUPA BAHWA ALLAH YANG MENENTUKAN SEMUANYA. HIDUP, MATI, RIZQI, JODOH HANYA ALLAH YANG MENENTUKAN.

Read more at: http://www.ruanghati.com/2012/04/16/kisah-haru-inspiratif-mandikan-aku-bunda/

Kegigihan Belajar Berbuah Kesuksesansebuah kantong sutra putih Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis