Kumpulan Motivasi Hikmah

Jumat, 17 Agustus 2012

Kisah Lebaran Mbah Sariyem

 Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™



Mbah Sariyem


Aku berdiri di depan pintu pasturan sambil menikmati rokok. Sudah
hampir setengah jam aku menunggu hujan reda tapi mendung putih masih
bergantung di langit pertanda hujan masih agak lama baru reda. Memang tidak deras, tapi cukup untuk membuat badan basah kuyup. Padahal sejak tadi kunci sepeda kotor sudah ada di tangan dan tas kain sudah tersampir di pundak. Aku sudah siap berangkat untuk bertemu dengan teman-teman membicarakan hasil penjualan kerajinan tangan dari stick ice cream dan parcel. Mereka pun sudah telpon apakah aku jadi kesana atau tidak. Kata mereka daerah sekitar sekretariat tidak hujan. Hujan saja kok tidak merata, batinku.

Tiba-tiba mataku tertuju ke sudut gedung balai paroki. Dalam keremangan
sinar lampu halaman dan mataku yang sudah agak kabur, aku melihat
secara samar seorang ibu tua duduk di sudut gedung balai paroki yang tidak
jauh dari tempatku berdiri. Sepintas dandanan ibu ini seperti ibu-ibu yang
ada di desa. Dia memakai kebaya dan ada sebuah keranjang yang diikat oleh
seledang di punggungnya. Dia duduk melipat diri berusaha menghindari
air hujan. Aku rasa dia bukan umat sini.

Kuhampiri dia dan kuajak masuk ke ruang tamu pasturan. Ibu tua ini
bernama Mbah Sariyem. Rumahnya di daerah Rungkut Tambak. Suatu tempat yang sangat jauh dari sini. Aku sendiri tidak tahu dimana persisnya daerah itu. Aku hanya tahu daerah Rungkut Industri, sebab dulu sering berkumpul dengan kaum buruh di sana. Katanya dari pabrik-pabrik itu masih jauh lagi. Jika daerah Rungkut Industri saja dari sini sudah sekitar 10 km, maka rumah Mbah Sariyem pasti lebih dari 15 km dari sini.

Mbah Sariyem cerita bahwa dia tadi berangkat dari rumah pada pagi hari.
Tujuannya mencari zakat fitrah. Ternyata semua masjid belum membagikan
zakat fitrah, maka Mbah Sariyem terus berjalan mencari tempat yang
membagikan zakat fitrah. Setelah capek berjalan kaki, Mbah Sariyem lalu
naik bis kota. Dia tidak tahu arah bis kota dan oleh kondektur bis
diturunkan di pompa bensin. Katanya dia lama duduk di pompa bensin
tanpa tahu harus pergi kemana. Kebetulan ada tukang becak yang lewat daerah situ dan bertanya mengapa di tengah hujan Mbah Sariyem duduk-duduk di tepi jalan. Setelah tahu bahwa Mbah Sariyem mencari zakat fitrah, maka oleh tukang becak diantar ke gereja, sebab memang tukang becak ini biasanya mangkal di depan gereja. Katanya gereja sering membagikan zakat fitrah kalau mau Natal.

Mbah Sariyem bukan seorang Katolik. Dia tidak tahu kapan hari Natal
apalagi arti Natal. Baginya hanya berharap ada orang yang memberinya zakat fitrah menjelang hari lebaran ini. Mbah Sariyem ingin merayakan lebaran secara sederhana, tapi tidak mempunyai uang sama sekali. Maka dia mencari zakat agar pada hari lebaran nanti dia bisa sedikit makan yang layak. Setelah mendengarkan kisahnya kuambilkan beberapa kilo beras dan beberapa bungkus mie instant.

Mbah Sariyem mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Wajahnya tampak
sangat gembira akhirnya dia mendapatkan zakat fitrah yang dia cari
sepanjang hari ini. Ketika pamitan Mbah Sariyem kutanya akan naik apa?
Dengan sederhana dia mengatakan akan jalan asal aku memberi tahu arah
daerah Rungkut Tambak. Dia tidak mau naik angkutan lagi. Takut diturunkan di sembarang tempat. Gila pikirku. Dalam hujan begini dia akan jalan kaki
sejauh 15 km? Padahal usianya sudah tua dan harus membawa beras yang
kuberi.

Aku yakin Mbah Sariyem tidak mengada-ada. Dia tidak meminta uang ongkos
jalan. Dia sudah sangat bersyukur dengan barang yang kuberi dan ingin
segera pulang. Sial pikirku. Apakah aku harus ke sekretariat atau
mengantar Mbah Sariyem. Tidak mungkin dia kugoncengkan sepeda motor di tengah hujan seperti ini. Pertama tentu dia akan takut dan aku bisa kerepotan memboncengkan orang yang takut. Kedua, kami berdua bisa basah kuyup. Maka kubatalkan acara di sekretariat dan kuantar Mbah Sariyem naik angkutan kota.

Dalam perjalanan Mbah Sariyem mulai cerita tentang hidupnya. Dia tidak
tahu tahun berapa dia lahir. Dia hanya ingat bahwa ketika jaman Jepang dia
sudah besar dan ikut antri beras di Ngawi. Kalau jaman Jepang saja dia sudah besar dan bisa antri minyak, mungkin Mbah Sariyem lahir sekitar tahun 1930 an berarti usianya sudah hampir 70 an tahun. Setelah merdeka dia menikah dengan seorang petani tetangga desanya. Dia mempunyai beberapa anak tapi yang hidup sampai sekarang tinggal dua orang anaknya yang lelaki.
Mereka sekarang sudah berkeluarga dan tinggal di Kalimantan. Suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ketika kutanya mengapa tidak ikut anak-anaknya saja, Mbah Sariyem mengatakan dia kapok ikut anak-anaknya.

Dulu setelah suaminya meninggal Mbah Sariyem ikut anaknya yang tertua
di Kalimantan. Tapi hanya beberapa bulan saja, sebab dia diusir oleh
menantunya dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Maka dia
kembali ke Jawa tanpa bekal uang sama sekali. Beberapa bulan dia menggelandang di sekitar pelabuhan Tanjung Perak sampai akhirnya dia tersesat di daerah Rungkut Tambak. Untuk menghidupi dirinya Mbah Sariyem mencari kangkung di persawahan dan menjualnya di pasar atau para tetangga.

Dengan berlinang air mata Mbah Sariyem cerita bahwa setiap hari lebaran
seperti ini dia berharap ada anaknya yang datang. Dia ingin seperti para
tetangga yang setiap hari lebaran dikunjungi oleh anak dan cucunya. Mbah
Sariyem tidak berharap kalau anaknya datang membawa banyak barang
sebagai oleh-oleh. Dia hanya ingin anaknya hadir di hari lebaran. Tapi
harapannya tidak pernah terkabul. Sudah bertahun-tahun anaknya tidak pernah mencari atau memberi kabar. Ketika kutanya apakah anaknya tahu dimana tempat tinggalnya? Mbah Sariyem hanya menggelengkan kepala. Kupikir bagaimana anaknya bisa datang kalau alamatnya saja dia tidak tahu. Apakah Mbah Sariyem tahu alamat anaknya di Kalimantan? Katanya dulu pernah tetangganya membantu menuliskan surat untuk anaknya, tapi tidak pernah dibalas. Dan sekarang alamat anaknya sudah hilang.

Dengan pasrah Mbah Sariyem mengatakan ya sudah nasibku memang harus
begini. Sambil mendengarkan kisah hidupnya aku jadi termenung. Aku bisa
merasakan betapa pedih hati seorang ibu yang diusir oleh menantu. Betapa sedih hati Mbah Sariyem yang senantiasa berharap anaknya datang di hari lebaran tapi yang dinanti tidak pernah datang. Betapa sunyinya kehidupan Mbah Sariyem tanpa sanak saudara di hari tuanya.

Aku terbayang kembali kesedihanku di malam Natal ketika menjalani masa
novisiat di Philipina. Saat itu semua teman Philipina boleh pulang. Rumah
novisiat yang semula ramai menjadi sepi. Sambil menonton TV aku membayangkan teman-teman sedang berbahagia berkumpul bersama keluarga
dan teman-teman mereka. Aku teringat pada keluarga dan teman-teman di
Indonesia. Saat itu aku merasakan kesepian dan kepedihan hati harus
melalui malam natal sendirian di rumah hanya berteman TV.

Melihat Mbah Sariyem aku jadi tersenyum. Mentertawan diri sendiri,
sebab sampai saat ini kalau ingat natalan di novisiat aku masih sering
jengkel. Kini dihadapanku duduk seorang ibu tua yang senantiasa melewati hari lebaran dalam kesendirian. Aku hanya sekali kesepian di malam Natal,
sedangkan Mbah Sariyem harus berulang kali melewati hari lebaran dengan
rasa sepi dan kepedihan hati. Tapi Mbah Sariyem tetap tabah dan tetap
berharap bahwa suatu saat nanti anaknya akan datang pada hari lebaran.
Aku jadi kagum dengan Mbah Sariyem yang tidak putus asa. Seorang perempuan tua yang sudah mengalami pedihnya hati sebab diusir oleh menantu dan harus melewati hari-hari tuanya dengan kerja keras dan kemiskinan, tapi tetap memiliki harapan.

Cerita Mbah Sariyem membuatku termenung. Mengapa anak-anak Mbah Sariyem begitu tega terhadap ibunya? Tapi apakah memang anaknya begitu kejam sehingga tega mengusir ibunya yang sudah tua? Seandainya memang Mbah Sariyem itu jahat dan mengganggu kehidupan rumah tangganya, apakah
pengusiran itu sudah pantas sebagai hukuman? Akhirnya aku capek dengan
berbagai pertanyaan yang muncul dalam benakku. Pertanyaan yang tidak
mungkin kupecahkan dan kujawab.

Apakah kisah Mbah Sariyem itu menyiratkan generasi saat ini yang kurang
perhatian terhadap orang tua? Kisah Mbah Sariyem ini bukan kisah
pertama yang kudengar, sebab beberapa kali aku berkunjung pada orang tua-tua dengan kisah yang hampir sama. Mereka merasa ditinggalkan dan dilupakan oleh anak-anaknya. Pernah aku menyatakan pada seorang mengapa dia tidak memperhatikan ibunya yang sudah tua. Dengan agak tersinggung orang itu balas menegurku bahwa aku tidak tahu apa yang telah dia lakukan. Dia sudah menyisihkan sebagian penghasilannya untuk biaya pengobatan ibunya dan semua keperluan ibunya sudah dipenuhi. Dia juga sudah membayar seorang suster untuk merawat dan menjaga ibunya siang malam. Jadi cerita ibunya itu tidak benar. Mendengar semua itu aku jadi trenyuh, sebab yang dibutuhkan oleh ibunya bukan barang-barang, suster perawat atau pengobatan yang baik, tapi kehadirannya. Hal inilah yang sulit sebab dia sibuk dengan pekerjaan.

Aku yakin Mbah Sariyem bukanlah satu-satunya orang tua yang harus
melewati masa tua dengan kesunyian dan kepedihan hati. Aku yakin banyak kaum tua yang ditinggalkan dan dilupakan oleh anak-anaknya. Mereka bisa berada di rumah-rumah panti jompo, rumah-rumah megah atau terpuruk di gubuk-gubuk kumuh seperti Mbah Sariyem. Aku jadi teringat cerita temanku di Chichago bahwa banyak orang sana sekarang lebih menyukai memelihara anjing dari pada mempunyai anak. Apakah karena mereka takut mengalami hal seperti Mbah Sariyem? Aku tidak tahu.

salam,


gani
Email: yogas@indo.net.id http://www.pondokrenungan.com/isi.php?table=isi&id=19

Kisah Lebaran Mbah Sariyem Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis