Kumpulan Motivasi Hikmah

Sabtu, 18 Agustus 2012

Kisah Nyata Bang Toyib Lebaran Di Rantau

 Kata Bijak Kata Mutiara Kata Hikmah Kata Nasehat Berikut ini adalah kisah atau dongeng menarik yang cocok untuk di sampaikan kepada anak anak, remaja, pemuda bahkan pada orang tua, pria muda dan wanita. Kisah hikmah, Kisah renungan bisa membuat kita sadar dan bisa jadi hiburan, begitu pula dengan kisah lucu, cerita humor yang bisa di jadikan hiburan juga sebagai pelajaran.  Saya berharap dengan kisah ini nantinya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian kita ambil hikmahnya sebagai bekal untuk hidup baik di masa sekarang dan yang akan datang, amin... Selamat Membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa jika kisah ini bagus dan bermanfaat silahkan beritahu teman jika kurang bermanfaat silahkan hubungi admin . →←®™


 Kisah Nyata Bang Toyib Lebaran Di Rantau


Ramadhan tahun 2009 silam adalah pertama kali aku harus berpuasa sebulan penuh di Kendari. Saat itu baru sekitar empat bulan sejak aku dipindah tugas ke ibu kota Sulawesi Tenggara itu. Puasa waktu itu seolah berjalan lambat dan penuh tantangan bagiku. Aku harus terpisah lautan luas dengan keluargaku di Pulau Jawa, dan yang paling menyesakkan adalah, istriku dalam keadaan hamil besar saat itu.
Menjelang lebaran, sebuah keputusan sulit harus aku tetapkan. Aku tidak akan pulang saat lebaran. Bukan karena aku tega, tapi karena keadaan lah yang memaksa. Jika aku pulang saat lebaran, maka jatah cutiku akan habis tatkala istriku melahirkan yang diperkirakan dokter pada akhir Oktober, sebulan setelah lebaran. Pun jika aku pulang saat lebaran, biaya tiket pesawat benar-benar tidak ramah di kantong, padahal kami pasti bakal membutuhkan biaya persalinan yang tidak sedikit nantinya.
“Nggak papa Mas, yang penting nanti saat aku melahirkan, Mas ada di sini,” ucap istriku via telepon. Saat itu sepertinya tulang-tulangku lepas semua. Lidahku pun kelu, sulit berkata-kata.
Malam takbir berkumandang di Kota Kendari. Silih berganti wajah orang tuaku, keluargaku dan istriku membayangi malamku yang sendiri. Bahkan kawan-kawan sesama perantauan telah mengabarkan statusnya di Facebook, bahwa mereka sangat bahagia telah berkumpul dengan keluarga. Sementara wall Facebook milikku ramai dikunjungi teman yang menyapaku dengan sebutan baru, “Bang Toyip”, yang tak pulang saat lebaran.
Pagi harinya menjelang Subuh, aku terbangun dengan mata merah. Mungkin karena tidurku tak nyenyak, sering terbangun dan mimpi dilempari ketupat. Sebuah SMS masuk dari seorang kawan yang asli Kendari. Ia mengajak aku sholat Ied di lapangan dekat rumahnya. Tentu saja ajakan itu aku iyakan.
Inilah pengalaman yang belum pernah aku alami. Sholat Ied tanpa kehadiran keluarga dan sanak saudara, tanpa wajah-wajah akrab yang telah aku kenal sejak masa kecilku.
Usai sholat Ied, Bana, teman sekantorku itu, mengajakku singgah ke rumahnya. Sebelumnya aku hanya membayangkan hidangan sarapan sederhana khas lebaran layaknya di kampungku. Namun, jauh dari bayanganku semula, Bana mengajakku ke rumah sanak saudaranya yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya. Sebuah jamuan lebaran yang istimewa, bermacam menu khas Kendari terhidang di meja. Ada sate pokea (kerang sungai), opor, buras (sejenis lontong), dan beragam masakan lain yang meski terasa asing tapi nikmat.
Terus terang aku agak canggung berkumpul dengan keluarga besar Bana. Mereka semua berpakaian rapi dan tampak akrab satu sama lain karena memang bersaudara. Sedangkan aku? Aku hanyalah orang asing yang numpang makan saat lebaran. Tapi untungnya mereka sangat baik terhadapku, rasa canggung lama-lama terkikis dengan sendirinya melihat sambutan hangat mereka.
Hanya sekitar satu setengah jam aku di sana, aku pamit pulang kontrakan dengan alasan ingin menelepon keluarga di Jawa. Maka setelah itu waktu aku habiskan dengan menghubungi orang tua, mertua, sanak saudara dan tentu istriku tercinta.
“Maafkan aku…,” ucapku pada mereka, dan mungkin inilah kata permintaan maaf paling menyedihkan yang pernah aku lontarkan.
Lebaran di kampung orang, di tanah perantauan, memang sangat berat, apalagi tanpa satu pun sanak saudara. Tapi saat itu justru aku menemukan ’saudara-saudara’ baru. Banyak undangan via telepon dan SMS dari kawan yang asli Kendari agar aku datang ke rumah mereka, sekedar untuk makan siang hingga makan malam sekaligus silaturahmi. Aku benar-benar terharu dan sangat menghargai perhatian serta keikhlasan mereka. Di saat mereka berkumpul dengan keluarganya, mereka masih ingat kesendirianku.
Namun, pengalaman menarik itu harus terbagi dengan bayangan tentang keadaan istriku. Aku selalu membayangkan betapa ia selalu merintih kesakitan sambil mengelus perutnya. Dan pengorbanan kami melewatkan kebersamaan saat lebaran akhirnya berbuah manis. Aku bisa pulang tepat pada saat detik-detik istriku akan melahirkan, dua pekan setelah lebaran, lebih awal dari perkiraan. Kami pun tersenyum bahagia menyambut kehadiran putra kami. Dia adalah buah hati kami yang saat ini Alhamdulillah selalu sehat di usianya yang menjelang dua tahun.

Kisah Nyata Bang Toyib Lebaran Di Rantau Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Majalah Bisnis